Friday, February 3, 2012

INFILTRASI

Infiltrasi adalah peristiwa masuknya air  ke dalam tanah melalui permukaan tanah secara vertikal. Sedangkan banyaknya air yang masuk melalui permukaan tanah persatuan waktu dikenal sebagai laju infiltrasi. Nilai laju infiltrasi sangat tergantung pada kapasitas infiltrasi, yaitu kemampuan tanah untuk melewatkan air dari permukaan tanah secara vertikal. ( Suripin, 2004 )
Menurut Sitanala Arsyad (2010:61), infiltrasi adalah peristiwa masuknya air ke dalam tanah, yang umumnya (tetapi tidak mesti) melalui permukaan dan secara vertikal. Jika cukup air, maka infiltrasi akan bergerak terus ke bawah yaitu ke dalam profil tanah disebut perkolasi.
Infiltrasi adalah proses aliran air (umumnya berasal dari curah hujan ) masuk ke dalam tanah. Perkolasi merupakan proses kelanjutan aliran air tersebut ke tanah yang lebih dalam. Dengan kata lain, infiltrasi adalah aliran air masuk ke dalam tanah sebagai akibat gaya kapiler (gerakan air ke arah lateral) dan gavitasi (gerakan air ke arah vertikal). Setelah lapisan tanah bagian atas jenuh, kelebihan air tersebut mengalir ke tanah yang lebih dalam sebagai akibat gaya gravitasi bumi dan dikenal sebagai proses perkolasi. (Asdak, 2007)

Pada saat awal dimana tanah tidak jenuh, infiltrasi terjadi pada umumnya akibat tarikan hisapan matriks dan grafitasi. Dengan masuknya air lebih dalam dan makin dalamnya profil tanah yang basah, maka makin lemah tarikan hisapan matriks. Sampai pada kedalaman tertentu tarikan hisapan matriks menjadi sangat kecil dan dapat diabaikan, sehingga gaya yang menyebabkan gerakan air tinggal hanya gaya gravitasi. Kondisi ini menyebabkan laju infiltrasi akan semakin berkurang sejalan dengan bertambahnya waktu
Hubungan antara kapasitas infiltrasi dan waktu dinyatakan dalam persamaan Horton sebagai berikut :
f = fc + (f0 – fc)e –kl
Dimana f adalah kapasitas infiltrasi pada sembarang waktu, fo adalah kapasitas infiltrasi awal pada t = 0, fc adalah kapasitas infiltrasi setelah mencapai harga konstan , k adalah konstanta positif yang bergantung pada tanah dan tumbuhan penutup tanah, t adalah waktu.
Kapasitas infiltrasi bervariasi terhadap sifat alamiah tanah, antara lain porositas, kelembapan awal, dan kemiringan tanah. Makin tinggi nilai kelembapan awal pada profil tanah, makin kecil laju infiltrasinya. Sifat – sifat tanah yang menentukan dan membatasi besarnya kapasitas infiltrasi tanah adalah struktur tanah yang sebagian besar ditentukan oleh tekstur tanah, pemadatan tanah dan sekelet tanah.
Partikel – partikel tanah pada umumnya  terdiri atas fraksi pasir, debu dan fraksi liat. Adanya perbedaan komposisi dari ketiga fraksi tersebut menyebabkan laju infiltrasi yang berbeda pula. Disamping itu, faktor struktur tanah yang turut menentukan laju infiltrasi adalah jumlah, ukuran, dan kemampuan pori.
Menurut Bermanakesumah (1978 ), jumlah dan ukuran pori yang menentukan adalah jumlah pori – pori yang berukuran besar. Makin banyak pori – pori besar maka kapasitas infiltrasi makin besar pula, dan besarnya ukuran pori tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini .
Tabel 3. Ukuran pori tanah
No
Jenis
Diameter ( u )
1
Pori besar
> 10
2
Pori sedang
0,2-0,02
3
Pori halus
<0,02
Sumber : Suripin (2004:50)
Atas dasar ukuran pori tersebut di atas ternyata liat kaya akan pori besar. Sebaliknya fraksi pasir banyak mengandung pori besar dan sedikit pori halus. Dengan demikian kapasitas infiltrasi pada tanah – tanah pasir jauh lebih besar dari pada tanah liat, dan pengaruh perbedaan dari pada tekstur tanah terhadapproses infiltrasi terlihat pada tabel
Tabel 4. Kapasitas infiltrasi beberapa macam tanah yang diperoleh dari pengukuran
No
Macam tanah
Kapasitas infiltrasi mm/jam
1
Pasir bergeluh ( loamy sand )
25 – 50
2
Geluh ( loam )
12.5 – 25
3
Geluh berliat ( silt loam )
7.5 – 15
4
Geluh berlempung ( clay loam )
0.5 – 2.5
5
Lempung ( clay )
<0.5
Sumber : Suripin (2004:51)
Disamping itu, proses pemadatan tanah, baik oleh pukulan air hujan, penggembalaan ternak, dan pengolahan tanah dengan menggunakan alat berat, menyebabkan berkurangnya pori – pori tanah, sehingga menurunkan kapasitas infiltrasi. Sedangkan sekelet tanah secara langsung berpengaruh terhadap ukuran pori yang terbentuk, yaitu makin banyak sekelet tanah makin besar pula kapasitas infiltrasinya.
Berdasarkan uraian di atas dapat pula disimpulkan bahwa tanah – tanah yang bertekstur kasar membentuk struktur tanah yang ringan, sebaliknya tanah – tanah yang berbentuk  atau tersusun dari tekstur yang halus menyebabkan terbentuknya tanah – tanah yang bertekstur berat. Adanya perbedaan struktur tanah yang terjadi, secara tidak langsung mempengaruhi ukuran dan jumlah pori – pori tanah yang terbentuk.
Tanah – tanah dengan struktur yang berat mempunyai jumlah pori halus yang banyak, dan miskin akan pori – pori besar, mempunyai kapasitas infiltrasi kecil. Sebaliknya tanah – tanah yang berstruktur ringan mengandung banyak pori besar dan sedikit pori halus, kapasitas infiltrasinya lebih besar dibandingkan denga tanah yang berstruktur berat.
Berdasar kapasitas infiltrasinya dapat dikatakan bahwa kemungkinan terjadinya aliran permukaan pada tanah – tanah yang berat lebih besar dibanding pada tanah yang berstruktur ringan. Hal ini sesuai dengan pendapat Bermanakusumah (1978), bahwa kapasitas infiltrasi tanah ikut menentukan banyaknya air yang mengalir di atas permukaan tanah, sebagai aliran permukaan. Jadi, semakin besar kapasitas infiltrasi, maka aliran permukaan yang terjadi akan semakin kecil.

0 comments:

Post a Comment