Friday, February 3, 2012

Sumur Resapan


a. Definisi Sumur resapan
Sumur resapan merupakan sumur atau lubang pada permukaan tanah yang dibuat untuk menampung air hujan agar dapat meresap ke dalam tanah ( Kusnaedi, 2011). Sumur resapan ini kebalikan dari sumur air minum. Sumur resapan merupakan lubang untuk memasukkan air ke dalam tanah, sedangkan sumur air minum berfungsi untuk menaikkan air tanah ke permukaan. Dengan demikian, konstruksi dan kedalamannya berbeda. Sumur resapan digali dengan kedalaman di atas muka air tanah, sedangkan sumur air minum digali lebih dalam lagi atau di bawah muka air tanah
Penerapan sumur resapan sangat dianjurkan dalam kehidupan sehari – hari. Beberapa fungsi sumur resapan adalah sebagai berikut :
a.       Pengendali banjir
Banjir seringkali menggenangi kawasan pemukiman ketika musim hujan tiba. Terjadinya banjir di kawasan pemukiman dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :
1)      Pengembangan rumah yang melewati batas garis sempadan banguan (GSB)
2)      Sistem drainase yang tidak terencana dengan baik
3)      Masih kurangnya kesadaran para penghuni kawasan
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan membangun sumur resapan air pada setiap rumah dalam suatu kawasan perumahan. Sumur resapan mampu memperkecil aliran permukaan sehingga dapat menghindari terjadinya genangan aliran permukaan secara berlebihan yang menyebabkan banjir.
b.      Konservasi  air tanah
Fungsi lain dari sumur resapan ini adalah memperbaiki kondisi air tanah atau mendangkalkan permukaan air sumur, di sini diharapkan air hujan lebih banyak yang diresapkan ke dalam tanah menjadi air cadangan dalam tanah. Air yang tersimpan dalam tanah tersebut akan dapat dimanfaatkan melalui sumur – sumur atau mata air.
Peresapan air melalui sumur resapan ke dalam tanah sangat penting mengingat adanya perubahan tata guna tanah di permukaan bumi sebagai konsekuensi dari perkembangan penduduk dan perekonomian masyarakat. Dengana adanya perubahan tata guna tanah tersebut akan menurunkan kemampuan tanah untuk meresapkan air. Hal ini mengingat semakin banyaknya tanah yang tertutupi tembok, beton, aspal, dan bangunan lainnya yang tidak meresapkan air. Penurunan daya resap tanah terhadap air dapat juga terjadi karena hilangnya vegetasi penutup permukaan tanah.
c.       Menekan laju erosi
Dengan adanya penurunan aliran permukan maka laju erosi pun akan menurun. Bila aliran permukaan manurun, tanah – tanah yang tergerus dan terhanyut pun akan berkurang. Dampaknya, aliran permukaan air hujan kecil dan erosi pun akan kecil. Dengan demikian, adanya sumur resapan yang mampu menekan besarnya aliran permukaan berarti dapat menekan laju erosi.

b. Jenis – jenis Sumur Resapan
Jenis bangunan sumur resapan cenderung bervariasi. Bentuk dan jenis bangunan sumur resapan dapat berupa bangunan sumur resapan air yang dibuat segiempat atau silinder dengan kedalaman tertentu dan dasar sumur terletak di atas permukaan air tanah. Berikut ini merupakan berbagai jenis konstruksi sumur resapan yang sering dipakai
1)        Sumur tanpa pasangan di dinding sumur, dasar sumur tidak diisi apapun
2)        Sumur tanpa pasangan di dinding sumur, dasar sumur diisi dengan batu belah dan ijuk
3)        Sumur dengan susunan batu bata, batu kali atau batako di dinding sumur. Dasar sumur diisi dengan batu belah dan ijuk atau kosong
4)        Sumur menggunakan besi beton di dinding sumur
5)        Sumur menggunakan blawong ( batu cadas yang dibentuk khusus untuk dinding sumur.
Berbagai konstruksi tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan masing – masing. Pemilihannya dapat disesuaikan dengan kondis batuan/tanah. Selain itu disesuaikan juga dengan kebutuhan dan anggaran dana yang dimiliki.
c. Faktor – faktor yang mempengaruhi sumur resapan.
1)      Faktor iklim
Iklim merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan sumur resapan. Faktor yang perlu mendapat perhatian adalah besarnya curah hujan. Semakin besar curah hujan di suatu wilayah berarti semakin besar atau banyak sumur resapan yang diperlukan.
2)      Kondisi air tanah
Pada kondisi permukaan air tanah yang dalam, sumur resapan perlu dibuat secara besar – besaran karena tanah benar – benar memerlukan suplai air melalui sumur resapan. Sebaliknya, pada alahan yang muka airnya dangkal, sumur resapan ini kurang efektif dan tidak akan berfungsi dengan baik. Terlebih pada daerah rawa dan pasang surut. Justru daerah tersebut lebih memerlukan saluran drainase.
3)      Kondisi tanah
Kondisi tanah sangat berpengaruh pada besar kecilnya daya resap tanah terhadap air hujan. Dengan demikian, konstruksi dari sumur resapan harus mempertimbangkan sifat fisik tanah. Sifat fisik yang langsung berpegaruh terhadap besarnya infiltrasi adalah tekstur dan pri – pori tanah.
Tanah berpasir dan porus lebih mampu merembeskan air hujan dangan cepat. Akbatnya, waktu yang diperlukan air hujan untuk tinggal dalam sumur resapan relatif singkat dibandingkan dengan tanah yang kandungan liatnya tinggi dan lekat.
4)      Tata guna tanah
Tata guna tanah akan berpengaruh terhadap presentasi air yang meresap ke dalam tanah dengan aliran permukaan. Pada tanah yang banyak tertutup beton bangunan, air hujan yang mengalir di permukaan tanah akan lebih besar dibandingkan dengan air yang meresap ke dalam tanah. Dengan demikian, di lahan yang penduduknya padat, sumur resapan harus dibuat lebih banyak dan lebih besar volumenya. Hubungan antara tata guna tanah dengan daya resap tanah terhadap air hujan disajikan pada tabel
Tabel 5. Hubungan tataguna tanah denga daya resap tanah
Tata guna tanah (land use)
Daya resap tanah terhadap air hujan ( % )
Daerah huatan, pekarangan lebat, kebun, ladang berumput
80 – 100
Daerah taman kota
75 – 95
Jalan tanah
40 – 85
Jalan aspal, lantai beton
10 – 15
Daerah dengan bangunan terpencar
30 – 70
Daerah pemukiman agak padat
5 – 30
Daerah pemukiman padat
10 – 30
Sumber : Kusnaedi (2011:24)

5)      Kondisi sosial ekonomi
Perencanaan sumur resapan harus memperhatikan kondisi sosial perekonomian masyarakat. Misalnya, pada kondisi perekonomian yang baik, biaya untuk sumur resapan dapat dibebankan kepada masyarakat dan konstruksinya dapat dibuat dari bahan yang benar – benar kuat. Sebaliknya pada kondisi sosial ekonomi masyarakat rendah, sumur resapan harus terbuat dari bahan – bahan yang murah dan mudah.
6)      Ketersediaan bahan
Perencanaan konstruksi sumur resapan harus mempertimbangkan ketersediaan bahan – bahan yang ada di lokasi. Misalnya, untuk daerah perkotaan, sumur resapan dapat terbuat dari beton, tangki fiberglass, atau cetakan beton. Sementara untuk daerah pedesaan, smur resapan yang cocok untuk dikembangkan yaitu dari bambu atau kayu yang tahan lapuk atau bahan lain yang murah dan mudah didapat dilokasi.


d. Konsep Sumur Resapan
Menurut Suripin (2004), konsep dasar sumur resapan pada hakekatnya adalah suatu sistem drainase dimana air hujan yang jatuh di atap atau lahan kedap air ditampung pada suatu sistem resapan air. Berbeda dengan cara konvensional dimana air hujan dibuang / dialirkan ke sungai terus ke laut, cara ini mengalirkan air hujan ke dalam sumur – sumur resapan yang dibuat di halaman rumah. Sumur resapan ini merupakan sumur kosong dengan maksud kapasitas tampungannya cukup besar sebelum air meresap ke dalam tanah. Dengan adanya tampungan, maka iar hujan mempunyai cukup waktu untuk meresap kedalam tanah, sehingga pengisisan tanah menjadi optimal.
Secara teoritis, volume dan efisiensi sumur resapan dapat dihitung berdasarkan keseimbangan air yang masuk ke sumur dan air yang meresap ke dalam tanah ( Sunjoto, 1988) dan dapat dituliskan sebagai berikut :
H = (  )
Dimana :
H         : tinggi muka air dalam sumur (m)
F          : adalah faktor geometrik (m)
Q         : debit air masuk (m3/dt)
T          : waktu pengisian (detik)
K         : koefisien permeabilitas tanah (m/dt)
R          : jari – jari sumur (m)
Faktor geometrik tergantung pada berbagai keadaan sebagaimana dapat dilihat pada gambar dan secara umum dapat dinyatakan dalam persamaan:
Qo = F.K.H
Kedalaman efektif sumur resapan dihitung dari tinggi muka air tanah bila dasar sumur berada di bawah muka air tanah tersebut, dan diukur dari dasar sumur  bila muka air tanah  berada di bawah dasar sumur. Sebaiknya dasar sumur berada pada lapisan tanah dengan permeabilitas tinggi


Faktor – faktor yang mempengaruhi dimensi sumur meliputi:
a.       Luas permukaan penutupan, yaitu lahan yang airnya akan ditampung dalam sumur resapan, meliputi luas atap, lapangan parkir dan perkerasan – perkerasan lain
b.      Karakteristik hujan, meliputi intensitas hujan, lama hujan, selang waktu hujan. Secara umum dapat dikatakan bahwa makin tinggi hujan, makin lama berlangsungnya hujan memerlukan volume sumur resapan yang makin besar. Sementara selang waktu hujan yang besar dapat mengurangi volume sumur yang diperlukan
c.       Koefisien permeabilitas tanah, yaitu kemampuan tanah dalam melewatkan air per satuan waktu. Tanah berpasir mempunyai koefisien permeabilitas lebih tinggi dibandingkan tanah berlempung.
d.      Tinggi muka air tanah. Pada kondisi muka air tanah yang dalam, sumur resapan perlu dibuat secara besar – besaran karena tanah benar – benar memerlukan pengisian air melalui sumur – sumur resapan. Sebaliknya pada lahan yang muka airnya dangkal, pembuatan sumur resapan kurang efektif, terutama pada daerah pasang surut atau daerah rawa dimana air tanahnya sangat dangkal.

0 comments:

Post a Comment